Politik

SEKDA MUNDUR NASDEM MULAI BERSUARA: DIAM BUKAN BERARTI LEMAH

SEKDA MUNDUR NASDEM MULAI BERSUARA: DIAM BUKAN BERARTI LEMAH
Dok : Ricky Arasendi Sekretaris DPD Partai NasDem Kabupaten Aceh Tengah

Ini bukan soal ingin dirangkul. Mundurnya Sekda menjadi pemicu bagi NasDem untuk menyampaikan kekecewaan yang sebenarnya sudah cukup lama ada.

Takengon |suaragayo.id|— Pengunduran diri Sekretaris Daerah Aceh Tengah, Mursyid, menjadi momentum bagi Partai NasDem Aceh Tengah untuk menyampaikan sikap terhadap perjalanan pemerintahan Haili Yoga–Muchsin Hasan sejak dilantik hingga saat ini. ( 26 Agustus 2026 )

Sekretaris DPD NasDem Aceh Tengah, Ricky Arasendi, mengatakan bahwa mundurnya Sekda bukan persoalan yang kemudian membuat NasDem ingin dirangkul atau meminta tempat dalam pemerintahan.

“Ini bukan soal ingin dirangkul. Mundurnya Sekda menjadi pemicu bagi NasDem untuk menyampaikan kekecewaan yang sebenarnya sudah cukup lama ada. Sejak pemerintahan terbentuk, NasDem merasa tidak pernah dilibatkan secara berarti dalam berbagai persoalan strategis daerah,” ujar Ricky.

Menurutnya, selama ini NasDem memilih menahan diri agar pemerintahan dapat bekerja tanpa terganggu dinamika politik.

“Diamnya NasDem bukan karena tidak melihat, tidak mendengar atau tidak memiliki sikap. Kami menghormati pemerintahan yang sedang berjalan dan memberikan kesempatan kepada Bupati untuk menjalankan mandatnya. Tetapi tentu ada titik ketika sebuah partai perlu menyampaikan apa yang selama ini dirasakan,” katanya.

Ricky menegaskan, posisi NasDem di Aceh Tengah memiliki kekuatan elektoral yang nyata. Pada Pemilu 2024, NasDem memperoleh lima kursi DPRK Aceh Tengah, jumlah yang sama dengan partai peraih kursi terbanyak, dengan 14.666 suara sah.

“Lima kursi itu bukan angka yang kecil dan bukan sesuatu yang diperoleh dengan mudah. Di belakangnya ada mandat rakyat, kerja kader dan perjuangan struktur partai. Karena itu, NasDem bukan kekuatan pelengkap dalam konfigurasi politik Aceh Tengah,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa dalam Pilkada 2024, NasDem merupakan partai pengusung Haili Yoga–Muchsin Hasan, bukan sekadar pendukung.

“Pada saat itu Haili Yoga bersedia menjadi kader NasDem. NasDem kemudian menggunakan kekuatan politik dan struktur partai untuk mengusung dan memenangkan pasangan tersebut. Dukungan itu diberikan tanpa mahar politik,” ungkap Ricky.

Menurutnya, NasDem tidak pernah menganggap dukungan tersebut sebagai transaksi untuk memperoleh jabatan, proyek ataupun keuntungan tertentu.

“Yang diharapkan adalah hubungan politik yang sehat, komunikasi dan penghargaan terhadap partai pengusung. Kalau setelah kemenangan justru NasDem merasa semakin tidak dilibatkan, tentu ada kekecewaan. Itu yang sedang kami evaluasi,” ujarnya.

Ricky menegaskan bahwa mundurnya Sekda menjadi titik evaluasi, bukan titik tawar bagi NasDem.

“Jadi jangan membaca sikap NasDem sekarang sebagai sinyal ingin mendapatkan posisi dalam pemerintahan. Tidak. NasDem sedang mengevaluasi hubungan politik secara objektif. Ada atau tidak ada ruang dalam pemerintahan, NasDem tetap memiliki mandat lima kursi di DPRK,” katanya.

Mengenai sikap NasDem terhadap kebijakan pemerintah ke depan, Ricky mengatakan partainya akan menggunakan mandat tersebut sesuai fungsi parlemen.

“Dukungan politik bukan cek kosong. Kebijakan yang berpihak kepada masyarakat tentu akan didukung. Kalau ada kebijakan yang perlu dikritisi, NasDem akan menjalankan fungsi pengawasan, penganggaran dan legislasi secara maksimal,” jelasnya.

Ia juga tidak menutup kemungkinan NasDem mengambil posisi sebagai oposisi konstruktif.

“Kalau komunikasi politik tidak menemukan jalan dan kepentingan masyarakat mengharuskan NasDem mengambil posisi berbeda, oposisi konstruktif bukan sesuatu yang mustahil. Itu bukan ancaman dan bukan upaya menjatuhkan pemerintahan. Itu bagian dari mekanisme demokrasi,” kata Ricky.

Menurutnya, kekuatan NasDem di parlemen harus dipahami sebagai mandat masyarakat, bukan alat untuk kepentingan kelompok.

“NasDem tidak ingin mengganggu jalannya pemerintahan. Tetapi pemerintah juga harus memahami bahwa lima kursi DPRK berarti lima mandat politik yang harus menjalankan fungsi konstitusionalnya,” ujarnya.

Ricky menambahkan, kondisi Aceh Tengah yang masih membutuhkan pemulihan pascabencana seharusnya menjadi perhatian utama seluruh pihak.

“Yang paling penting sekarang adalah memastikan pelayanan publik berjalan, pemulihan pascabencana terus dikerjakan dan masyarakat mendapatkan perhatian. Perbedaan politik jangan sampai mengorbankan kepentingan rakyat,” katanya.

Ricky menegaskan bahwa NasDem tidak menutup pintu komunikasi dengan siapa pun, tetapi sikap politik partai tidak ditentukan oleh tawaran jabatan maupun kepentingan sesaat.

“NasDem tidak sedang meminta untuk dirangkul. NasDem sedang menentukan bagaimana mandat lima kursi dan kepercayaan masyarakat akan digunakan. Itu hak politik kami,” tegasnya.

Ia menutup dengan mengingatkan kembali sejarah hubungan politik tersebut.

“NasDem pernah menjadi bagian penting dari jalan kemenangan Haili Yoga–Muchsin Hasan. Hari ini NasDem tidak sedang meminta balasan. NasDem hanya ingin memastikan bahwa kekuatan yang dulu diperhitungkan tidak dianggap tidak ada setelah kemenangan diraih. Tutup Ricky Arasendi

 

Categories: Politik Tags: —

Bag

0 Comments

  • Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Leave a comment

Newsletter Subscribe

Dapatkan berita terbaru langsung ke email Anda.