Sosial

PEMIMPIN BERTOPENG : ANTARA LEGITIMASI MORAL DAN PENCITRAAN KEKUASAAN

PEMIMPIN BERTOPENG : ANTARA LEGITIMASI MORAL DAN PENCITRAAN KEKUASAAN
Dok: Fauzan Akbar Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Mahakarya Aceh (UMMAH)

Pendidikan karakter tidak cukup hanya diajarkan di dalam ruang kelas, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh: Fauzan Akbar

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Mahakarya Aceh (UMMAH)

Bener Meriah |suaragayo.id| Viralnya video dugaan perkelahian dan pengeroyokan pelajar di Dataran Tinggi Tanoh Gayo harus menjadi alarm bagi kita semua. Peristiwa kekerasan yang melibatkan pelajar tidak boleh dianggap sebagai kenakalan remaja biasa. 

Jika benar terjadi pengeroyokan, persoalannya bukan sekadar siapa pelaku dan siapa korban. Lebih dari itu, kita harus bertanya: mengapa kekerasan ini bisa terjadi, dan bagaimana cara mencegahnya agar tidak terulang lagi?

Sekolah harus menjadi tempat yang aman bagi setiap pelajar. Tidak boleh ada praktik senioritas, intimidasi, perundungan (bullying), atau kekerasan yang dibungkus dengan alasan kebersamaan. Para senior seharusnya menjadi teladan bagi junior, bukan sebaliknya. 

Namun, tanggung jawab tidak hanya berada di pundak sekolah. Orang tua, guru, pemerintah daerah, aparat penegak hukum, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta lingkungan pergaulan juga wajib mengambil peran aktif.

Pendidikan karakter tidak cukup hanya diajarkan di dalam ruang kelas, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Pemerintah Kabupaten Bener Meriah melalui instansi terkait perlu melakukan evaluasi nyata terhadap sistem pencegahan kekerasan di lingkungan pendidikan. Jangan sampai pemerintah baru bergerak setelah kasusnya menjadi viral di media sosial.

Di sisi lain, publik juga harus bijak dalam bermedia sosial. Video kekerasan tidak seharusnya disebarluaskan, terlebih lagi jika dapat membuka identitas dan mempermalukan korban. Kita boleh mengecam tindakan kekerasannya, tetapi jangan ikut melakukan kekerasan di dunia maya terhadap korban maupun anak-anak yang terlibat di dalamnya.

Kita juga harus memberi ruang kepada aparat penegak hukum untuk mengungkap fakta secara objektif. Jangan sampai opini masyarakat mendahului proses hukum yang sedang berjalan. Jika ada pihak yang terbukti melakukan kekerasan, maka ia harus menerima konsekuensi dari perbuatannya, dengan tetap memperhatikan prinsip perlindungan anak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Yang menjadi perhatian sekarang, jangan berhenti pada penyelesaian satu kasus saja. Harus ada langkah pencegahan yang benar-benar dilakukan, seperti: pengawasan terhadap peserta didik, penguatan pendidikan karakter, layanan Bimbingan Konseling (BK) yang optimal, penyediaan ruang pengaduan yang nyaman, komunikasi yang baik antara sekolah dan orang tua, serta pembinaan yang masif kepada siswa-siswi yang berpotensi terlibat dalam kekerasan.

Bener Meriah memiliki nilai agama, suku, dan budaya yang menjunjung tinggi kehormatan, persaudaraan, serta kebersamaan. Nilai-nilai luhur ini harus menjadi benteng bagi generasi muda dalam menyikapi konflik dan menjalani pergaulan sehari-hari. Kita tidak ingin anak-anak kita tumbuh dalam budaya “Sahen Beb, we Si Menang” (siapa yang kuat, dialah yang menang). Sebaliknya, kita bercita-cita agar mereka tumbuh dengan prinsip bahwa menyelesaikan masalah membutuhkan akal budi, komunikasi, dan keberanian untuk menahan diri.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Orang yang kuat bukanlah orang yang jago bergulat dan berkelahi, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika sedang marah.’” (HR. Bukhari No. 6114 dan Muslim No. 2609).

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran: 133-134).

Kasus ini harus menjadi momentum bagi kita semua untuk berbenah. Jangan tunggu sampai ada korban berikutnya, baru kemudian kita bertanya, “Mengapa ini bisa terjadi?”

Mari kita bergandengan tangan menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, manusiawi, dan bebas dari kekerasan. Pelajar bukanlah objek yang harus ditakuti, melainkan generasi penerus yang harus dilindungi, dididik, dibina, dan ditempa untuk dipersiapkan menjadi pemimpin masa depan Bener Meriah yang lebih baik.

Categories: Sosial Tags: —

Bag

0 Comments

  • Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Leave a comment

Newsletter Subscribe

Dapatkan berita terbaru langsung ke email Anda.