Penulis : Tengku Ridwan Bintang, SH
Salah satu kekeliruan besar yang sering terjadi dalam kehidupan manusia modern adalah anggapan bahwa kebahagiaan baru akan datang setelah semua target dunia berhasil diraih. Seakan-akan seseorang harus terus bekerja tanpa henti, mengejar karier, mengumpulkan harta, membangun citra, dan menunda kebahagiaan sampai suatu hari nanti.
Tanpa disadari, banyak manusia akhirnya kehilangan kesempatan menikmati nikmat yang sedang ada di hadapannya. Waktu bersama keluarga terabaikan, kebersamaan dengan orang-orang tercinta semakin berkurang, bahkan ketenangan hati sering dikorbankan demi mengejar sesuatu yang belum tentu sempat kita nikmati.
Kita sering dibuat takut oleh bayangan masa depan yang belum tentu kita jalani. Padahal hidup bukan hanya tentang apa yang ingin kita miliki esok hari, tetapi juga tentang bagaimana kita mensyukuri dan menjalani amanah Allah pada hari ini.
Dalam Islam, mengejar karier, memiliki rumah, kendaraan, tabungan, serta berusaha memberikan kehidupan yang baik bagi keluarga bukanlah sesuatu yang tercela. Bahkan bekerja dengan niat yang baik dapat menjadi ibadah. Dunia adalah nikmat Allah yang diberikan kepada manusia untuk dikelola dan dimanfaatkan dalam kebaikan.
Namun persoalannya muncul ketika sesuatu yang seharusnya menjadi sarana berubah menjadi tujuan utama kehidupan. Ketika harta lebih dicintai daripada Allah, ketika kesuksesan dunia membuat seseorang lupa kepada akhirat, dan ketika pencapaian menjadi ukuran kemuliaan seseorang.
Allah ﷻ berfirman dalam QS. Ali ‘Imran ayat 14:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
Artinya:
“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia kecintaan terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”
Ayat ini mengingatkan bahwa kecintaan terhadap dunia merupakan bagian dari tabiat manusia. Allah tidak melarang manusia menikmati dunia, tetapi Allah mengingatkan agar hati tidak diperbudak oleh dunia.
Harta, jabatan, ilmu, dan berbagai pencapaian hanyalah titipan. Nilainya bukan terletak pada seberapa banyak yang kita kumpulkan, tetapi seberapa besar manfaat yang mampu kita berikan dan apakah semua itu semakin mendekatkan kita kepada Allah ﷻ.
Kesuksesan dalam pandangan manusia sering diukur dengan kekayaan, kedudukan, popularitas, dan banyaknya pencapaian. Namun dalam pandangan Islam, kesuksesan sejati adalah ketika seseorang mendapatkan keberkahan dunia sekaligus keselamatan akhirat.
Al-Qur’an memberikan banyak gambaran tentang orang-orang yang sukses. Mereka bukan hanya orang yang memiliki banyak harta, tetapi orang yang hatinya dekat dengan Allah, menggunakan nikmat dunia untuk kebaikan, serta menjadikan kehidupan dunia sebagai jalan menuju kehidupan yang abadi.
Dunia ini bukan tempat tinggal selamanya, melainkan tempat perjalanan. Jangan sampai kita sibuk membangun rumah di dunia, tetapi lupa menyiapkan tempat kembali di akhirat.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.